Pada tanggal 16 April 2025, saya melaksanakan praktik mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas 8F dengan materi “Beriman kepada Nabi dan Rasul Allah.” Kegiatan pembelajaran ini berlangsung selama dua jam pelajaran dari pukul 14.00 hingga 15.00. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga sekaligus penuh tantangan, terlebih karena kegiatan tersebut dinilai langsung oleh guru pamong.
Persiapan mengajar saya sebenarnya sudah saya lakukan sebelumnya, namun saya sadari belum mencapai 100% kesiapan—sekitar 97%—sehingga saat pelaksanaan, saya mengalami beberapa kendala. Ketidaksempurnaan persiapan ini berdampak langsung pada kemampuan saya dalam mengondisikan kelas dan mengontrol peserta didik, terutama karena kelas 8F memiliki karakteristik yang cukup menantang. Beberapa siswa masih tertidur ketika pembelajaran dimulai, belum menyiapkan buku, ramai sendiri, serta sering meminta izin keluar kelas. Hal ini cukup mengganggu jalannya proses belajar mengajar dan membuat saya merasa kurang berhasil menerapkan model pembelajaran yang telah dirancang.
Model pembelajaran yang saya siapkan memang kurang efektif diterapkan pada kondisi kelas seperti ini. Waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengimplementasikan model tersebut secara optimal. Hal ini sempat membuat saya merasa kecewa dan menyalahkan diri sendiri karena tidak mempersiapkan perangkat dan media pembelajaran dengan matang. Namun demikian, saya tetap berusaha memperbaiki dengan menyesuaikan model pembelajaran di pertemuan berikutnya. Saya menggunakan pendekatan yang lebih sederhana dan fleksibel, namun tetap melanjutkan inti dari model awal agar tujuan pembelajaran tetap tercapai.
Dari pengalaman ini, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya fleksibilitas dalam mengajar dan kemampuan beradaptasi dengan situasi nyata di kelas. Saya juga menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada satu model saja, tetapi juga pada kesiapan guru dalam mengelola kelas dan menyiapkan rencana cadangan. Kegagalan dalam menerapkan satu metode tidak berarti pembelajaran gagal sepenuhnya. Justru, guru harus mampu menyusun alternatif yang sesuai dengan kondisi siswa dan situasi yang dihadapi.
Ke depan, saya berkomitmen untuk melakukan evaluasi yang lebih rinci terhadap kesiapan pembelajaran, termasuk dalam manajemen waktu, pemilihan model, penyusunan perangkat, serta penguasaan materi. Pengalaman ini menjadi cambuk dan motivasi bagi saya untuk menjadi guru yang lebih profesional, matang dalam persiapan, dan mampu menyesuaikan diri dengan dinamika peserta didik.
Komentar
Posting Komentar